
Dialog antara Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS di Jabal Qurban, Mina, merupakan salah satu kisah paling penting dalam sejarah Islam. Kisah ini terbagi menjadi dua bagian utama, yakni dialog prinsipil yang diabadikan dalam Al-Qur'an dan dialog teknis-emosional yang diriwayatkan oleh para ulama tafsir. Kedua dialog ini menggambarkan keteguhan iman dan kepatuhan luar biasa dari seorang ayah dan anak dalam menjalankan perintah Allah SWT.
Bagian pertama adalah dialog inti yang tercatat dalam Surah As-Saffat ayat 102. Saat Nabi Ismail beranjak remaja dan telah sanggup bekerja, Nabi Ibrahim menyampaikan wahyu yang diterimanya melalui mimpi. Dalam penyampaiannya, Nabi Ibrahim tidak memaksa, melainkan berdiskusi secara lembut dengan putranya. Ia berkata, "Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah, bagaimana pendapatmu?" Mendengar itu, Nabi Ismail menjawab dengan penuh keikhlasan, "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."
Bagian kedua adalah dialog teknis yang terjadi sesaat sebelum penyembelihan, sebagaimana diceritakan dalam berbagai riwayat tafsir. Ketika Nabi Ismail sudah direbahkan dan pelipisnya menyentuh tanah di atas batu Jabal Qurban, terjadilah percakapan terakhir yang penuh haru. Nabi Ismail memberikan beberapa wasiat kepada ayahnya. Ia meminta agar ikatannya dikencangkan supaya tidak banyak bergerak saat disembelih, karena khawatir gerakan reaktifnya dapat mengurangi pahala kurban. Nabi Ibrahim menyanggupi permintaan itu sambil mengikat tali dengan tangan yang gemetar karena penuh kasih sayang.
Nabi Ismail juga meminta agar lengan baju ayahnya disingsingkan supaya darahnya tidak menciprati pakaian Nabi Ibrahim. Ia khawatir jika ibunya melihat bercak darah itu, hatinya akan hancur dan menjadi tidak ikhlas. Nabi Ibrahim menanggapi dengan penuh penghargaan, menyebut Ismail sebagai penolong terbaik dalam menjalankan perintah Allah. Selain itu, Ismail meminta agar pisau ditajamkan dan proses penyembelihan dipercepat agar rasa sakitnya tidak terlalu lama. Ia juga berpesan agar salamnya disampaikan kepada ibunya jika ayahnya kembali ke rumah.
Mendengar ketegaran dan keikhlasan putranya, Nabi Ibrahim tidak kuasa menahan tangis. Ia memeluk Ismail untuk terakhir kalinya dan mengungkapkan rasa syukur atas bantuan putranya dalam menjalankan perintah Allah dengan sangat indah.
Akhir kisah ini menjadi puncak ujian iman. Saat Nabi Ibrahim menempelkan pisau tajam ke leher Ismail dengan penuh kepatuhan, Allah SWT mengutus Malaikat Jibril. Pisau tersebut tiba-tiba menjadi tumpul dan tidak melukai Ismail. Allah kemudian menggantikan tubuh Ismail dengan seekor domba besar dari surga sebagai balasan atas kelulusan ujian iman mereka. Kisah ini menjadi simbol ketaatan dan pengorbanan dalam ajaran Islam, serta menjadi dasar perayaan Iduladha di seluruh dunia Muslim.
|
362x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...