
Anjuran untuk berpuasa di bulan Zulhijjah memiliki akar sejarah yang kuat, terutama terkait dengan kisah Nabi Ibrahim AS saat menerima perintah berat dari Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Peristiwa ini menjadi latar belakang utama bagi penamaan dan pelaksanaan puasa sunnah pada hari-hari tertentu di bulan Zulhijjah, khususnya puasa Tarwiyah dan puasa Arafah.
Hari Tarwiyah, yang jatuh pada 8 Zulhijjah, memiliki makna khusus. Kata "Tarwiyah" berasal dari bahasa Arab "ar-rawi" yang berarti berpikir, merenung, atau membawa air. Pada malam 8 Zulhijjah, Nabi Ibrahim AS menerima wahyu melalui mimpi untuk menyembelih putranya. Sepanjang hari itu, beliau terus merenungkan apakah mimpi tersebut benar-benar perintah dari Allah SWT atau sekadar godaan setan. Selain itu, secara historis, hari ini juga menjadi waktu bagi para jemaah haji di masa lalu untuk mengumpulkan dan menyiapkan pasokan air dari Makkah sebelum berangkat ke Mina dan Arafah sebagai persiapan ibadah wukuf.
Selanjutnya, Hari Arafah yang jatuh pada 9 Zulhijjah juga memiliki makna penting. Kata "Arafah" berarti mengetahui atau menyadari. Pada malam 9 Zulhijjah, Nabi Ibrahim AS kembali mendapatkan mimpi yang sama. Di hari ini, beliau akhirnya yakin bahwa mimpi tersebut adalah perintah mutlak dari Allah SWT. Hari Arafah juga merupakan puncak ibadah haji, di mana para jemaah melaksanakan wukuf di Padang Arafah. Bagi umat Islam yang tidak menunaikan ibadah haji, disunnahkan untuk berpuasa pada hari ini.
Selain kisah Nabi Ibrahim AS, terdapat pula hikmah dari amalan puasa Zulhijjah yang diceritakan dalam kitab An-Nawadir karya Syekh Syihabuddin al-Qalyubi. Dikisahkan seorang pria yang rajin berpuasa di sepuluh hari pertama Zulhijjah, meskipun hidup sederhana dan dianggap remeh oleh lingkungannya. Ketulusan dan ketekunan pria tersebut dalam berpuasa menjadi teladan, hingga setelah wafatnya, sahabatnya bermimpi melihat makam pria itu diziarahi secara spiritual oleh Rasulullah SAW dan para sahabat, sebagai bentuk penghormatan atas amalan puasa Zulhijjah yang dijaganya.
Puasa di awal bulan Zulhijjah memiliki keutamaan yang besar. Berdasarkan hadis-hadis sahih, puasa Arafah pada 9 Zulhijjah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Selain itu, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa amalan di sepuluh hari pertama Zulhijjah sangat dicintai oleh Allah SWT. Satu hari berpuasa pada periode ini dinilai setara dengan berpuasa selama satu tahun. Hari Arafah juga dikenal sebagai hari di mana Allah SWT paling banyak membebaskan hamba-Nya dari siksa api neraka.
Dengan memahami sejarah dan keutamaannya, puasa di bulan Zulhijjah menjadi amalan sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam, baik yang sedang menunaikan ibadah haji maupun yang tidak. Amalan ini tidak hanya memperkuat ketakwaan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk meraih pahala dan pengampunan dari Allah SWT.
|
139x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...