Selamat Datang di Website Resmi MAN 3 Bungo # Selamat Datang di Website MAN 3 Bungo http://man3bungo.mdrsh.id Terima Kasih Telah Mengunjungi Website MAN 3 Bungo Operator Website : Fadli Ahmad, SE dan M. Fauzi, S.Pd.I
Diposting Pada: Minggu, 07 Juni 2026

Sejarah dan Keunikan Tari Piring dari Sumatera Barat

Sejarah dan Keunikan Tari Piring dari Sumatera Barat

Tari Piring, atau dalam bahasa Minangkabau disebut Tari Piriang, merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari Solok, Sumatera Barat. Tarian ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-12, pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya, dan terus berkembang hingga era Kerajaan Pagaruyung. Tari Piring menjadi salah satu warisan budaya yang masih lestari hingga saat ini dan dikenal luas di Indonesia.

Pada awal kemunculannya, Tari Piring memiliki fungsi sakral dalam kehidupan masyarakat agraris Minangkabau. Tarian ini digunakan sebagai bagian dari ritual pemujaan kepada Dewi Padi, yang dipercaya sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran. Dalam upacara tersebut, para penari wanita membawa piring berisi makanan dan sesaji sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Mereka menari dengan gerakan dinamis dan estetis, mengikuti irama musik tradisional, sembari membawa sesaji menuju ladang.

Seiring waktu, perubahan besar terjadi ketika agama Islam mulai masuk ke wilayah Minangkabau sekitar abad ke-16 melalui para pedagang Arab. Kepercayaan terhadap dewa-dewa perlahan memudar, namun masyarakat Minangkabau tidak serta-merta meninggalkan Tari Piring. Sebaliknya, mereka melakukan adaptasi budaya dengan mengubah fungsi tarian ini. Tari Piring kemudian lebih difokuskan sebagai media hiburan rakyat dan menjadi bagian dari berbagai upacara adat, pernikahan, serta penyambutan tamu kehormatan.

Selain perubahan fungsi, gerakan dalam Tari Piring juga mengalami perkembangan. Unsur seni bela diri tradisional Minangkabau, yaitu Silek atau Silat Minangkabau, mulai diadopsi ke dalam gerakan tari. Hal ini membuat Tari Piring semakin dinamis dan atraktif, serta memperkaya nilai seni dan budaya yang terkandung di dalamnya.

Salah satu ciri khas Tari Piring yang paling dikenal adalah atraksi ekstrem di akhir pertunjukan. Pada bagian ini, para penari membanting piring ke lantai hingga pecah, lalu melanjutkan tarian dengan menginjak pecahan piring tanpa mengalami luka. Menurut kepercayaan setempat, pecahan piring tersebut telah diberi doa khusus agar para penari tetap aman. Selain itu, jumlah penari dalam Tari Piring secara tradisional harus ganjil, seperti tiga, lima, atau tujuh orang.

Tari Piring tidak hanya menampilkan keindahan gerak dan kelincahan para penari dalam mengayunkan piring tanpa terjatuh, tetapi juga memperlihatkan kekayaan budaya dan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Minangkabau. Hingga kini, Tari Piring masih sering dipentaskan dalam berbagai acara adat dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin menyaksikan langsung keunikan tarian ini.

 


203x
Dibaca
.

Berita Lainnya:

  1. Gaji ASN ke-13 Cair, Kapan Cairnya??? catat cair 2 Juni 2026 esok pagi 1886x dibaca
  2. Guru PJOK Berperan Aktif dalam Sukseskan Classmeeting 126x dibaca
  3. Waka Kesiswaan MAN 3 Bungo Tinjau Persiapan Ujian TKA 88x dibaca
  4. MAN 3 Bungo Buka Layanan Pendaftaran murid baru Tatap Muka 88x dibaca
  5. Hari Ini PAT di MAN 3 Bungo Dimulai dengan Upacara Pembukaan 198x dibaca

Go Back To Home

Jadwal Sholat

Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya

Memuat tanggal...

Imsak--:--
Subuh--:--
Terbit--:--
Dhuha--:--
Dzuhur--:--
Ashar--:--
Maghrib--:--
Isya--:--

Peta Lokasi MAN 3 Bungo

Mars Madrasah