
TENGGARONG — Senja yang tenang di Gang Wakaf, RT 33, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara, mendadak berubah menjadi neraka jahanam yang menyayat hati pada Senin sore, 5 Oktober 2026.
Tepat saat matahari bersiap tenggelam sekitar pukul 16.30 WITA, jeritan histeris warga memecah keheningan. Sebuah kebakaran hebat melalap permukiman padat penduduk, mengubah rumah-rumah tempat berteduh dan merajut mimpi menjadi tumpukan abu dalam sekejap mata.
Amukan si jago merah yang begitu dahsyat ini diduga kuat bermula dari kelalaian manusia. Api pertama kali terindikasi berasal dari aktivitas memasak di sebuah rumah sewaan milik warga bernama Tamino. Nahas, aktivitas dapur tersebut diduga ditinggalkan begitu saja oleh sang penyewa tanpa pengawasan, memicu percikan api yang dengan cepat membesar dan langsung lepas kendali.
Detik-Detik Kepanikan dan Isak Tangis yang Memecah Senja
Ketua RT 33 Kelurahan Melayu, Supriyadi, menjadi saksi hidup bagaimana bencana ini datang merenggut kedamaian warganya yang baru saja hendak melepas lelah sore itu. Ia mengenang kembali momen mencekam ketika menyadari kepulan asap hitam pekat telah membubung tinggi tepat di belakang kediamannya sendiri.
"Mulai api itu dari belakang rumah saya, dari rumah sewaan punya Pak Tamino," kenang Supriyadi dengan suara yang bergetar menahan kesedihan mendalam. "Rupanya ada yang masak di situ ditinggal dengan yang penyewanya."
Dalam hitungan detik setelah kesaksian itu, situasi berubah menjadi sangat kacau. Suara jeritan warga yang saling bersahutan beradu dengan gemuruh jilatan api yang kian membesar. Orang-orang berlarian menyelamatkan diri tanpa arah, sementara suara tangis anak-anak kecil yang ketakutan dan keputusasaan para orang tua menggema di sepanjang gang sempit.
Di tengah kepungan hawa panas yang menyengat, warga hanya bisa berupaya menyelamatkan barang-barang berharga seadanya. Supriyadi sendiri mengaku pasrah dan hanya sempat mengamankan surat-surat penting dari rumahnya, sementara harta benda lainnya yang ia kumpulkan bertahun-tahun harus rela dilumat api.
Angin Kencang dan Rumah yang Rata dengan Tanah
Kondisi permukiman yang sangat padat dengan jarak antarbangunan yang begitu rapat membuat api bergerak dengan sangat rakus. Didukung hembusan angin, kobaran api melompat dengan mudah dari satu atap ke atap lainnya. Api tidak berhenti di satu bangunan, melainkan merembet secara membabi buta ke rumah-rumah di sekitarnya.
Petugas pemadam kebakaran dan warga yang mencoba menjinakkan api tampak kewalahan menghadapi keganasan si jago merah. Kobaran yang tak terbendung bahkan dilaporkan terus meluas hingga membentang ke kawasan dekat lampu merah di ruas Jalan Aji Mohammad Alimudin.
Supriyadi memperkirakan dampak kehancuran dari bencana ini telah mencakup sebagian besar wilayah RT 33. Malam yang jatuh di Tenggarong setelah kejadian itu menyisakan pemandangan yang teramat memilukan.
Senja kelam itu berakhir dengan duka yang teramat dalam: puluhan jiwa kini terpaksa kehilangan tempat tinggal mereka. Mereka hanya bisa terduduk lemas di pinggir jalan, memandang kosong ke arah puing-puing rumah yang masih berasap. Segala kenangan, pakaian, dan harta benda yang mereka miliki kini telah hangus menjadi debu, menyisakan trauma mendalam dan masa depan yang masih tak tentu arah.
|
208x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...