
Masjid Raya Sumatera Barat, yang kini resmi bernama Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, terletak di Jalan Chatib Sulaiman, Kota Padang. Masjid ini menjadi kebanggaan masyarakat Minangkabau karena memadukan nilai filosofis budaya lokal dengan fungsi modern, baik sebagai pusat ibadah maupun sebagai tempat mitigasi bencana.
Masjid ini dirancang oleh arsitek Rizal Muslimin tanpa menggunakan kubah, melainkan mengadopsi bentuk atap bergonjong empat khas Rumah Gadang. Desain ini tidak hanya unik secara arsitektural, tetapi juga memiliki makna filosofis yang kuat. Struktur bangunan dirancang khusus agar tahan terhadap gempabumi hingga magnitudo 10. Selain itu, masjid ini juga disiapkan sebagai shelter evakuasi darurat bagi warga sekitar jika terjadi bencana alam.
Pada Juli 2024, masjid ini resmi berganti nama menjadi Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Pergantian nama ini dilakukan untuk menghormati jasa Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, seorang ulama besar asal Minangkabau yang pernah menjadi imam besar di Masjidil Haram, Makkah. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat secara rutin menganggarkan dana pemeliharaan fasilitas masjid, termasuk alokasi miliaran rupiah, agar masjid tetap nyaman untuk jamaah dan wisatawan.
Sejarah pembangunan masjid ini dimulai dari hasil sayembara desain arsitektur yang digelar secara global pada tahun 2006. Rizal Muslimin terpilih sebagai pemenang, mengalahkan 323 arsitek dari berbagai negara. Peletakan batu pertama dilakukan pada 21 Desember 2007 oleh Gubernur Gamawan Fauzi, dan konstruksi rampung sepenuhnya pada 4 Januari 2019. Total biaya pembangunan masjid ini mencapai sekitar Rp325 miliar hingga Rp330 miliar, yang sebagian besar bersumber dari dana APBD Pemprov Sumatera Barat dan dikucurkan secara bertahap.
Dari segi desain, masjid ini memiliki filosofi mendalam. Selain bentuk atap yang menyerupai Rumah Gadang, desain persegi dengan empat sudut melancip pada atap masjid menggambarkan peristiwa bersejarah saat empat kabilah suku Quraisy di Makkah bersama-sama memindahkan batu Hajar Aswad menggunakan bentangan kain. Area utama salat dilengkapi dengan karpet permadani merah mewah, hadiah dari Pemerintah Turki. Pada bagian mihrab imam, desain interior dibuat melengkung menyerupai bentuk batu Hajar Aswad, dengan atap dihiasi ukiran Asma'ul Husna berwarna keemasan.
Masjid ini berdiri di atas lahan seluas 40.000 meter persegi dengan luas bangunan utama mencapai 18.000 meter persegi. Bangunan terdiri dari tiga lantai, di mana lantai atas digunakan sebagai ruang utama salat. Ruang utama masjid mampu menampung sekitar 5.000 hingga 6.000 jamaah sekaligus.
Hingga Juni 2026, Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan utama di Sumatera Barat. Ribuan umat Islam di Kota Padang baru saja melakukan aksi jalan kaki menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, dengan garis akhir di masjid ini. Acara puncak diisi oleh orasi para ulama nasional. Untuk menjaga kenyamanan jamaah dan wisatawan, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengalokasikan dana sekitar Rp4,7 miliar khusus untuk pemeliharaan fasilitas fisik masjid setiap tahunnya.
|
252x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...