
Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah telah ditetapkan jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026. Penetapan ini dilakukan secara resmi oleh Pemerintah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah. Idul Adha, yang juga dikenal sebagai Hari Raya Kurban, merupakan salah satu hari besar umat Islam. Perayaan ini menjadi momentum untuk mengenang kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS dalam menunaikan perintah Allah SWT. Melalui peristiwa ini, umat Islam diingatkan akan pentingnya ketaatan dan keikhlasan dalam beribadah.
Dalam rangka menyambut Idul Adha, terdapat sejumlah amalan sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan. Amalan-amalan ini bertujuan menghidupkan syiar Islam, menambah kekhusyukan ibadah, serta meraih pahala yang berlipat ganda. Berikut penjelasan mengenai amalan sunnah yang dapat dilakukan sebelum, saat, dan setelah pelaksanaan salat Idul Adha.
Sebelum salat Idul Adha, umat Islam dianjurkan mengumandangkan takbir. Takbir mulai dikumandangkan sejak subuh pada hari Arafah, yaitu tanggal 9 Zulhijjah, dan berlanjut hingga waktu asar pada hari tasyrik terakhir, yaitu 13 Zulhijjah. Selain itu, mandi besar atau mandi sunnah sebelum berangkat ke tempat salat Id sangat dianjurkan sebagai bentuk penyucian diri dan persiapan menyambut hari besar keagamaan.
Memakai pakaian terbaik yang bersih dan rapi serta menggunakan wewangian, khususnya bagi laki-laki, juga menjadi salah satu sunnah yang dianjurkan. Hal ini merupakan wujud rasa syukur dan penghormatan terhadap hari besar Islam. Berbeda dengan Idulfitri, pada Idul Adha disunnahkan untuk menahan diri dari makan sejak terbit fajar hingga selesai salat Id, sebagai bentuk penghayatan terhadap makna pengorbanan.
Salat Idul Adha memiliki tata cara khusus. Lafaz niat salat Idul Adha sebagai makmum adalah: "Ushalli sunnatal li-'iydil adha rak'ataini mustaqbilal qiblati ma'muman lillahi ta'ala," yang berarti "Aku berniat salat sunnah Iduladha dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai makmum karena Allah Ta'ala." Sementara itu, bagi imam, lafaz niatnya sedikit berbeda pada bagian akhir, yaitu "imaman lillahi ta'ala."
Salat Idul Adha dilaksanakan dua rakaat tanpa azan dan iqamah. Ciri khas salat ini adalah adanya takbir tambahan (takbir zawaid) di luar takbiratul ihram dan takbir intiqal. Pada rakaat pertama, setelah takbiratul ihram dan doa iftitah, dilakukan tujuh kali takbir tambahan. Di antara takbir tersebut, dianjurkan membaca kalimat tasbih. Setelah itu, membaca surah Al-Fatihah dan surah pendek, lalu melanjutkan rukun salat seperti biasa. Pada rakaat kedua, dilakukan lima kali takbir tambahan, diikuti bacaan tasbih, lalu membaca Al-Fatihah dan surah pendek, sebelum melanjutkan gerakan salat hingga salam.
Di sela-sela takbir tambahan, disunnahkan membaca kalimat pujian kepada Allah, yaitu "Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar," yang berarti "Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar."
Ketika menuju tempat salat Id, umat Islam dianjurkan berjalan kaki dengan tenang jika jaraknya memungkinkan. Selain itu, disarankan mengambil rute yang berbeda saat berangkat dan pulang dari salat Id. Tujuannya adalah memperbanyak silaturahmi dengan sesama Muslim di lingkungan sekitar serta memperluas syiar Islam.
Salat Idul Adha biasanya dilaksanakan di lapangan terbuka, kecuali jika ada halangan seperti hujan atau kondisi lain yang tidak memungkinkan. Setelah salat, umat Islam dianjurkan untuk tetap duduk dan mendengarkan khutbah yang disampaikan oleh khatib hingga selesai. Mendengarkan khutbah merupakan bagian penting dari rangkaian ibadah Idul Adha.
Terkait ibadah kurban, menyembelih hewan kurban menjadi amalan utama bagi mereka yang mampu secara finansial. Penyembelihan hewan kurban dilakukan setelah salat Id hingga hari tasyrik berakhir pada 13 Zulhijjah. Selain itu, disunnahkan agar makanan pertama yang dikonsumsi setelah salat Id adalah sebagian daging dari hewan kurban milik sendiri.
Dengan melaksanakan berbagai amalan sunnah ini, umat Islam diharapkan dapat mengisi Hari Raya Idul Adha dengan penuh keikhlasan, semangat berbagi, dan mempererat tali silaturahmi. Setiap amalan yang dilakukan pada hari besar ini memiliki makna mendalam dalam memperkuat keimanan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
|
84x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...